Kamis, 28 Juli 2011
28 Juli 2011
semuanya kosong. hampa. tak bernyawa.
aku tertawa, tapi aku tidak yakin hatiku bahagia.
aku menangis, tapi aku sama sekali tidak memiliki keyakinan bahwa aku sedang terluka.
beku
hampa
kosong
semuanya menari dalam alunan lagu yang tak beraturan.
aku
hanya tahu aku sendiri,
aku
hanya tahu tak seorangpun mengisi ruang kosong dihati
aku
hanya tak tahu bagaimana merasakan bahagia dan terluka
aku..
hampa
Rabu, 23 Februari 2011
just the reason
Selasa, 22 Februari 2011
hopeless
Sabtu, 19 Februari 2011
tanpa judul
Jumat, 11 Februari 2011
seputar kontak lens*_6
curhat...**never say u can't** Brunno mars
Barely strong enough to stand
I could always count on him
He thought me everything I know
And 'till this day it shows
He was more than just a friend
There were so many times I would doubt myself
But his words were always there to help
How would it be?
Where I am?
If my father didn't tell me
To never say I can't
He'd carry me
And never let me fall
Oh and the only thing he asked
Right before he passed
Was to never say you can't
Never say you can't
So when last rain begins to fall
And you're out there on your own
And you can't see a thing
No no no
Just find a voice that understands
For me it was my old man
Taught me to say the words I can
There were so many times I would doubt myself
But his words were always there to help
How would it be?
Where I am?
If my father didn't tell me
To never say I can't
He'd carry me
And never let me fall
Oh and the only thing he asked
Right before he passed
Was to never say you can't
Everything he taught me would stay with me forever
No I won't forget a thing
Oh because of dad I now know myself better
And I hope I can do for him what he did for me
How would it be?
Where I am?
If my father didn't tell me
To never say I can't
He'd carry me
And never let me fall
Oh and the only thing he asked
Right before he passed
Was to never say you can't
Never say you can't
Never say you can't
Kamis, 20 Januari 2011
Rujak Kangkung:)

Rabu, 19 Januari 2011
siapkah kita dengan Redenominasi?
Sekitar tiga bulan yang lalu masyarakat Indonesia dihebohkan oleh kata redenominasi yang dikeluarkan oleh gubernur BI terpilih Darmin Nasution. Semua news program di setiap stasiun televisi pada saat itu beramai-ramai menampilkan berita tentang akan diberakukannya redenominasi di Indonesia secara penuh pada tahun 2022 dengan masa transisi 2013-2015. Dan sejak saat itu hampir semua masyarakat dari mulai penjual sayur, sopir angkot, ibu rumah tangga,pelajar SMA,Mahasiswa, PNS, dan pegawai swasta ikut memperbincangkan wacana ini. Banyak dari mereka yang tidak mengerti apa itu redenominasi, dan mereka lebih benyak menangkap redenominasi itu seperti yang terjadi pada orde lama dulu (1959) yang begitu menyengsarakan. Sehingga wacana redenominasi yang dikeluarkan BI pun tak pelak mendapat hujatan,terutama dari para ibu rumah tangga yang takut kekayaannya akan berkurang. Padahal, yang pernah dialami Indonesia di era soekarno itu bukan redenominasi,melainkan sanering. Meskipun sudah dijelaskan berkali-kali oleh para pejabat terkait mengenai redenominasi di setiap surat kabar, ataupun televisi, tetapi tetap saja masyarakat terpaut oleh persepsi mereka yang mengganggap redenominasi sama dengan sanering. Maka dari itu timbulah berbagai pertanyaan dalam benak kita siapkah masyarakat kita dengan redenominasi?, karena menurut saya kesiapan masyarakat dengan redenominasi adalah hal yang paling penting guna menyokong kesuksesan Bank Indonesia dalam mewujudkan redenominasi ini. Tanpa adanya kesiapan masyarakat redenominasi hanya akan jadi sesuatu yang sia-sia saja dan hanya membuang-buang biaya saja. Sebelum kita membahas seberapa besar kesiapan masyarakat dengan redenominasi dan seberapa besar kesiapan pemerintah menggodok redenominasi, di bawah ini terlebih dahulu saya uraikan sedikit tentang redenominasi itu sendiri.
Redenominasi terdiri dari dua suku kata, re dan denominasi. Re berarti kembali dan denominasi yang berasal dari kata denomination berarti satuan. Maka berdasarkan pengertian suku kata-suku kata diatas, dapat saya definisikan re-denominasi merupakan penyebutan kembali satuan mata uang dalam hal ini rupiah. Secara ekonomi pengertian redenominasi yang sering saya dengar adalah pengurangan nilai nominal mata uang Rupiah menjadi lebih kecil sebagai penyederhanaan mata uang Rupiah tanpa mengurangi nilai riilnya atau tanpa mengubah nilai tukarnya. Kata tanpa mengurangi nilai riil dan tanpa mengubah nilai tukar inilah yang seharusnya menjadi kata penekanan dalam setiap sosialisasi pada masyarakat kita yang notabene tidak begitu paham dengan istilah-istilah ekonomi dan pengertian sebenarnya. Dengan adanya kata tanpa mengurangi nilai riil dan tanpa mengubah nilai tukarnya inilah yang sebenarnya membedakan antara pengertian redenominasi dengan sanering, karena sanering sendiri berarti pemotongan nilai mata uang tanpa disertai pengurangan harga barang sehingga tidak menjamin nilai tukarnya tidak berubah atau nilai riilnya bisa dikatakan berkurang. Bank Indonesia sendiri bukan tanpa alasan menghendaki diberlakukannya redenomiansi di Indonesia, redenominasi hendak dilakukan selain terkait dengan pelaksanaan integrasi masyarakat ekonomi regional di tahun 2015, juga karena beberapa hal diantaranya ialah kenyataan bahwa pecahan Rp 100.000,00 merupakan mata uang dengan nominal terbesar kedua setelah 500.000 Dong Vietnam, selain itu nilai tukar kita terhadap dolar Amerika pun terkesan sangat lemah, sebagai contoh apabila kita menyebut nilai tukar rupiah terhadap dolar ialah Rp 9000 untuk US$1 maka yang ada dibenak setiap orang ialah memerlukan rupiah yang begitu banyak untuk hanya mendapatkan 1 dolar saja, maka dari itu bank Indonesia merasa perlu melakukan redenominasi Rupiah dengan menghilangkan 3 angka nol terakhir agar lebih efisien dalam pencatatan. Beberapa Negara yang telah melakukan redenominasi diantaranya Turki (2004) yang memotong 6 angka nol dibelakang(1jutat menjadi 1), Rumania (2005) memotong 4 angka nol dibelakang ( 10.000 menjadi 1), dan Zimbabwe(2008) yang memotong 10 angka nol dibelakang (10M menjadi 1).
Bank Indonesia juga menjelaskan syarat dilakukannya redenominasi mata uang antara lain kondisi perekonomian yang stabil, ekspektasi inflasi di negara tersebut harus berada di kisaran rendah dan stabilitas perekonomian terjaga serta adanya jaminan stabilitas harga dan yang paling penting ialah kesiapan masyarakat. Yang menjadi masalah terberat apabila tidak diatasi dengan baik dan benar ialah respon masyarakat terhadap redenominasi ini. Karena minimnya informasi yang didapat, berkembang isu negative ditengah – tengah masyarakat kita, dan pada umumnya mereka merasa khawatir apabila redenominasi, maka mereka akan jatuh miskin karena harga barang akan lebih tinggi dari uang yang mereka punya. Hal ini pun sudah dijadikan pertimbangan dalam konsep redenominasi oleh karena itu bank Indonesia mengagendakan tahun 2011-2012 sebagai tahun untuk mensosialisasikan redenominasi pada masyarakat kemudian pada tahun 2013, dilakukan redenominasi sebagai masa transisi hingga tahun 2015. Pada masa transisi ini, akan dipakai dua penilaian yang disebut istilah rupiah lama dan rupiah baru. Jadi masyarakat ingin membeli barang dengan harga Rp 100.000 pembayarannya bisa menggunakan uang rupiah lama yaitu pecahan Rp 100.000 atau menggunakan uang rupiah baru yaitu Rp 100 (redenominasi rupiah). Namun nampaknya konsep Bank Indonesia dalam mengantisipasi kekhawatiran masyarakat masih belum sepenuhnya dapat diterima oleh masyarakat, karena hingga kini belum ada kejelasan bagaimana nasib mata uang yang nilai nominalnya sudah terlanjur kecil seperti Rp 100,Rp 200 dan Rp 500 apakah akan diberlakukan kembali uang sen atau bagaimana. Selain itu masyarakat juga masih dibingungkan apabila membeli barang yang harganya tidak genap, misalnya membeli tempe dengan harga Rp 1500, pada saat sudah redenominasi haruskah membayar Rp1 dan 5 sen.
Saya sendiri setuju dengan konsep redenominasi, karena selain mengindikasikan perekonomian Indonesia dalam keadaan stabil, juga menghemat penulisan angka nol dalam pencatatan pembukuan keuangan, namun yang menjadi pertanyaan saya untuk menerima konsep redenominasi ini ialah seberapa besar dana yang harus dikeluarkan untuk menarik uang yang telah beredar dan mencetak uang redenominasi. Dan mengapa bank Indonesia harus mencetak uang baru pecahan Rp1.000 dan Rp 10.000 disaat bank Indonesia sendiri menghendaki adanya redenominasi. Dan saya yakin pertanyaan-pertannyaan saya pun ditanyakan dalam benak masing-masing individu masyarakat. Oleh Karena itu, hemat saya, masyarakat sendiri pada umumnya masih belum siap dengan redenominasi, kinerja bank Indonesia dalam memikirkan konsep redenominasi ini memang sangat bagus, namun sayang tidak disertai dengan sosialisasi yang baik pada masyarakat. Jadi apabila redenominasi memang akan menjadi sebuah wacana yang terwujud, seharusnya sosialisasi mengenai redenominasi ini dilakukan pada setiap lapisan masyarakat, terutama masyarakat golongan bawah dan masyarakat yang tinggal dipelosok-pelosok tanah air secara menyeluruh dan penuh pengertian agar tidak terjadi salah kaprah lagi dalam masyarakat.
Selasa, 18 Januari 2011
[BLACKHAT] Cara mendapatkan $1000/bln dari clickbank
Clickbank memiliki potensi yang sangat besar, kita bisa dengan mudah mendapatkan $1000/bulan dari clickbank.
Saya siap menbantu anda mempelajari clickbank, dari dasar hingga berhasil dapat $1000/bulan.
Saya berikan juga metode blackhat nya, silahkan buktikan..
Oke, silahkan kunjungi website :
http://www.Clickbank-id.com/?id=090609
